Rabu, 20 April 2016

Cerita unik mbah mahrus & mbah marzuqi Lirboyo

Mbah H. Syungeb (Syu’aib), Blengok Gandusari Trenggalek, bercerita saat takziyah atas meninggalnya adik ipar kemarin, bahwa pada tahun 1974 beliau menunaikan ibadah haji yang kebetulan satu pesawat dengan KH. Mahrus Ali, Nyai Hj. Zainab (istri beliau) dan Gus Imam (KH. Imam Yahya Mahrus). Dan, pada musim haji tahun 1974 itulah terjadi musibah jatuhnya pesawat yang membawa jama’ah haji asal kabupaten Blitar di Colombo yang kemudian semua korbannya dimakamkan di komplek makam Sunan Ampel, tepatnya di samping makam Mbah Bolong.
Sebenarnya, mbah yai Mahrus beserta keluarga dijadwalkan naik pesawat tersebut dan beliau saat itu sudah berada di atas pesawat. Ketika baru saja duduk di kursi pesawat, tiba-tiba beliau berdiri dan dawuh kepada Bu Nyai dan Gus Imam, “Ayo mudun, melu penerbangan sak mburine iki, pesawat iki mambu gondho mayit.”
Kemudian, beliau bertiga akhirnya ganti pesawat, sehingga menjadi satu kloter dengan mbah Syungeb. Dan setelah itu, terjadilah musibah jatuhnya pesawat yang kemudian dimonumenkan dengan pembangunan Rumah Sakit Syuhada Haji di Blitar.
Kemudian, sesampainya di tanah suci dan rangkaian ibadah haji dimulai, di salah satu hari, Mbah Yai Mahrus, Bu Nyai dan Gus Imam naik bis dari Kos tempat menginap milik Syekh Sirojuddin menuju Masjidil Haram. Perlu diketahui, bahwa Syekh Sirojuddin adalah alumni Lirboyo era mbah Faqih Sumbersari Pare Kediri, putra dari KH. Abdulloh Umar, pendiri Pondok Pesantren AT-TAQWA Kedunglurah Trenggalek.
Saat itu, mungkin karena ingin menikmati suasana lain, Gus Imam naik di atas kap bis bersama beberapa jama’ah haji lainnya, sedangkan Mbah Yai Mahrus beserta Bu Nyai duduk di kursi dalam bis.
Ketika di tengah perjalanan, tiba-tiba sopir mendadak mengerem bis untuk menghindari tabrakan, dan penumpang yang berada di atas kap berjatuhan, termasuk Gus Imam. Pada saat jatuh itulah ada kejadian luar biasa yang dialami Gus Imam. Sebagaimana yang diceritakan sendiri pada mbah Syungeb, bahwa ketika jatuh dari kap bis, Gus Imam tidak merasakan kesakitan atau bahkan terluka, karena pada saat itu ternyata beliau tiba-tiba ditangkap oleh KH. Marzuqi Dahlan dan diselamatkan dalam pangkuannya, padahal saat musim haji tahun itu Mbah Yai Marzuqi tidak ikut melaksanakan ibadah haji dan hanya berada di Lirboyo.
Gus Imam berkata pada mbah Syungeb, “Anu ngeb, pas ceblok songko nduwur bis, aku ditampani karo Pak Dhe, padahal Pak Dhe ndek Lirboyo lho, ora melu haji. Bar ngunu, aku noleh Pak Dhe wis ora enek.”
Yang dimaksud dengan Pak Dhe oleh KH. Imam Yahya Mahrus adalah Al-Maghfurlah KH. Marzuqi Dahlan, ayahanda KH. A. Idris Marzuqi.
Untuk para beliau, Al-Fatihah
Sumber Ust Azizichasbulloh

Sabtu, 02 April 2016

Ciri merpati kolongan

Ciri Merpati Tinggian (kolong/Lapak)

Memilih Merpati Tinggian


Bentuk Kepala
Pilih merpati yang mempunyai kepala besar dan dengan batok kepala depan lebih tinggi dari batok kepala belakang atau nonong. Jika merpati memiliki derajat kemiringan 90 biasanya bentuk kepala seperti ini dimiliki oleh merpati yang bagus untuk turun atas kepala atau tengah (arah jam12.00). Berbeda lagi dengan bentuk kepala yang mempunyai kemiringan 45-60, biasanya tipe kepala seperti ini akan bagus untuk turun dari arah manapun. Pilih juga bentuk kepala atau raut muka kelihatan galak seperti burung rajawali.

Bentuk paruh
Pilih paruh merpati yang berbentuk merit atau runcing pada ujungnya, tidak terlalu besar & tidak terlalu panjang. Pilih yang mempunyai panjang dari ujung hidung sampai ujung paruh berjarak sedikit lebih pendek dari jarak pangkal hidung sampai batok kepala depan teratas.

Mata
Pilih mata merpati yang kering dan jernih seperti kaca didalamnya, yang mempunyai pupil atau bijih mata berwarna hitam pekat dan responsif terhadap cahaya atau titik hitam. kalau kena sinar atau waktu keket/giring mengecil dan membesar. Perhatikan bahwa mata ini salah satu faktor yang harus diperhatikan saat memilih merpati.

Leher
Pilih leher merpati yang panjang dengan postur tubuh yang tegak seperti angka 2 atau seperti bebek. Dan pilih juga leher dan tulang merpati yg kuat.

Badan
Bentuk badan merpati pilih yang seperti jantung pisang atau huruf v, bentuk seperti itulah yang bagus. Kebanyakan dengan bentuk ini jarang ngejepat. Dengan postur ini biasanya akan turun sangat kencang dari arah manapun. Badannya kalau dipegang empuk dan ringan, burung seperti ini biasanya akan terbang tinggi.
Sayap
Bahu sayap merpati harus kuat dan lentur atau jangan kaku, bahu sayap kanan kiri tebal dan seimbang. Untuk bentuk bisa bervariasi, ada yg tebal bulat, pendek berotot. ada juga yg berbentuk pipih, lebar berotot. Tulang bulu sayap /sodonan kaku dan kering, besar, kuat, sedikit lentur pada ujung bulunya. Sayap rajin (kalau dibuka sayapnya tidak ada celah). Dan pilih juga yg memiliki sayap sedikit terlihat mekongkong saat dipegang. jangan yg memiliki sayap merapat ke badan, karena kualitas turunnya akan lebih kencang yg mempunyai sayap agak mekongkong.

Sapit Udang / Supitan
Sapit udang harus tebal dan keras tapi jangan sampai rapat sekali, karena ketebalan dan kuatny sapit udang pun juga mempengaruhi turunnya merpati.

Ekor
Pilihlah burung yang mempunyai bulu ekor rapat, tebal dan panjang (tebal disini harus disesuaikan dg pegangan burung, untuk kadar ketebalan bulu ekor akan berbeda dari pegangan seperti padat, empuk/ngapuk, keras. Bulu ekor nya menekan kebawah saat burung dipegang dengan posisi seperti akan ditegakan ini salah satu tanda burung tinggi yang baik.

Kaki
Pilih kaki yang kering atau terlihat mbesisik dan panjang (baik kaki maupun jarinya)
saat dipegang posisi kaki menjorok/mendorong kebelakang sejajar dg arah ekor.

Tingkah laku merpati
- Suara kepakan sayap
Bila diperhatikan suara kepakan dari sayap burung merpati yg satu dan lainnya akan berbeda. Suara kepakan dari burung merpati yg sudah jadi atau terbang tinggi dan belum jadi atau masih latihan ternyata memang berbeda, apalagi dengan burung merpati yg sama sekali belum latih terbang atau umbaran. Kepakan sayap burung merpati yang sudah terbang akan terdengar lebih ringan (teratatak) kira2 begitu. Kalau sudah terbang dan tinggi, di sela2 kepakannya ada suara sperti wis..wis..atau ringan. Sedangkan sayap burung merpati yg belum terbang atau jarang terbang akan terdengar lebih berat atau tjeplak-tjeplak.
- Cara turun merpati
Kalau kita mau mengamati cara turun burung dari kurungan itu akan bermacam macam. Ada yang melompat dengan mengepakkan sayap, ada yang langsung turun menjatuhkan tubuhnya, dan ada yang dengan posisi kepala di depan, ada pula yang dadanya di depan. Untuk mental burung yang menjatuhkan tubuhnyalah yg memiliki mental untuk turun. Bukan merpati yang turun kurungan dengan cara melompat dengan mengepakkan sayapnya, akan tetapi cara itu hanya bisa di pakai untuk memperkirakan kemampuan mental turunnya. Bukan kemampuannya untuk turun, karena untuk kemampuan turun masih diperlukan perangkat perangkat lain yg memadai seperti tulang, leher, sapit udang, pinggang, dll.

Ciri ciri merpati tinggian



  1. Katuranggan
    Katuranggan adalah penampakan kesesuaian postur merpati dari kepala (ujung paruh) sampai ujung kaki. Dalam hal ini kita dalam posisi hanya melihat tanpa menyentuh merpatinya. Yang bermain disini adalah naluri/insting dalam melihat postur, warna, gerak-gerik merpati dst. Dengan semakin banyak melihat postur-postur burung baik, otomatis naluri kitapun akan terasah untuk menilai baik tidaknya katuranggan seekor burung.
  2. Anatomi


  3. Mata :Selalu cek kondisi mata terlebih dahulu dalam memilih burung tinggian sebelum melihat/meraba yang lain. PERHATIKAN BAGIAN PUPIL (bulat hitam ditengah). Pupil HARUS! WAJIB! merespon sinar matahari dengan cepat, mengecil ketika dihadapkan kearah matahari. HARUS BENAR-BENAR MENGECIL, jangan hanya mengecil sedikit. Dan akan kembali normal dengan cepat ketika tidak diarahkan ke matahari. Segera tinggalkan merpati yang pupilnya kurang baik, PILIH YANG LAIN.


  4. Bulu :
    Bulu merpati yang sehat akan terlihat berkilauan pada saat terkena sinar matahari. Untuk bulu basah/kering rasanya tidak masalah karena kami pernah mempunyai merpati dengan bulu basah & kering yang menjadi juara. Ujung bulu/lar merpati tinggian pada umumnya membulat, tidak lancip-lancip. Dari pengalaman kami, merpati yang mempunyai 4 lar terluar dengan selisih panjang mencolok dari lar lainnya akan stabil terbang tinggi.


  5. Bodi :
    Merpati tinggian yang baik memiliki bodi “njantung” (berbentuk seperti jantung pisang) dan daging yang enak dipegang/lentur agar dapat manuver sekali jadi dari ketinggian ketika digeber oleh betinanya. Biasanya merpati-merpati yang berani terjun dari ketinggian apabila dipegang akan terasa berat didepan.
    Tulang supit :Kerangka tulang merpati yang kokoh dapat diraba dari tulang supitnya. Banyak merpati juara dengan stut keras & tidak kapokan ditunjang oleh tulang supit yang keras, yang menggambarkan merpati tersebut memiliki tulang yang kokoh dan kuat.
  6. Mental
    Hal terpenting dalam memilih merpati tinggian yang baik adalah memilih/membeli merpati dengan mental tarung yang baik. Hal-hal tersebut diatas, katuranggan & anatomi, tidak akan bekerja maksimal tanpa didukung oleh mental yang baik. Fakta dilapangan banyak bercerita bahwa banyak merpati yang dalam kondisi sehat, giring maksimal, bentuk bodi baik & daging lentur, mata bagus dsb tetapi tidak berani bermanuver dari ketinggian. Hal tersebut dapat disimpulkan penyebabnya adalah mental tarungnya yang kurang baik. Merpati-merpati dengan mental tarung yang baik sebagian besar sudah berada ditangan peternak untuk dibudi-dayakan untuk dilestarikan keturunannya.
Membeli dengan cara memantau langsung dilapangan adalah cara yang paling baik. Dalam memilih merpati tinggian khusunya untuk bermain kolongan, selalu prioritaskan untuk membeli merpati yang stabil. Percuma memilih merpati yang memiliki stut keras tapi tidak stabil, merpati tersebut akan menjadi bulan-bulanan pada saat lomba

Jumat, 01 April 2016

Cara melatih merpati kolongan

    Melatih merpati bahan hingga menjadi merpati siap lomba perlu melalui 4 tahap, yakni Tahap Fokus Betina, Tahap Fokus Kolong/Patek, Tahap Pengisian Tenaga, dan Tahap Titis Kolong.

1. Tahap Fokus Betina.
Merpati bahan, terutama merpati muda yang baru pertama kali mengalami giring seringkali belum focus pada betinanya. Hobiis perlu melatih merpati agar focus pada betina terlebih dahulu sebelum tahap latihan berikutnya. Melatih merpati yang tidak melalui tahap ini sama saja dengan merusak karakter merpati semenjak dini. Cara melatih agar merpati focus pada betina adalah dengan cara mem-pale/jantur merpati dalam jarak dekat, misal dari dongdang ke perut sang pelatih. Jika merpati (jantan) belum mau terbang kea rah pelatih (betina), betina harus didekatkan pada jantan agar jantan dapat melihat dengan jelas betinanya. Latihan pale ini terus diulang-ulang hingga merpati dapat focus pada betina tanpa terganggu oleh kehadiran merpati-merpati lain di sekelilingnya. Setelah latihan pale, merpati jantan perlu dibiarkan dekat dengan betina beberapa saat, dengan cara betina dipegang di tangan kanan dan jantan dibiarkan bertengger di jangan kiri pelatih, hal ini agar merpati tidak takut pada manusia. Adakalanya tahap Fokus Betina ini menghabiskan satu masa giringan. Apabila merpati sudah tidak takut pada manusia (pelatih) dan merpati sangat sigap untuk terbang kea rah perut pelatih (dimana betina memang diposisikan di perut), maka latihan Tahap Fokus Betina sudah berhasil dan siap dilanjutkan pada tahap berikutnya.

2. Tahap Fokus Kolong/Patek.
Tujuan dari latihan tahap ini adalah agar merpati mengenali dan familier dengan titik landasnya. Pertama-tama merpati dilepas dari jarak 1 meter dari titik landasan dengan dihadapkan pada betinanya. Apabila lepasan jarak 1 meter ini sukses, jarak lepas ditambah sedikit-sedikit hingga jarak lepasan sekitar 10 meter (jangan ditambah lagi jaraknya). Pada jarak 10 meter ini, merpati dilepas tetap menghadap betina dengan tidak dilemparkan hingga kepakan sayap dinilai sudah kuat. Apabila kepakan sayap dinilai sudah kuat, mulailah melepas pada jarak 10 meter itu dengan cara dilemparkan namun tetap menghadap betina hingga merpati nampak tidak ragu untuk landing dengan stut yang keras. Jika kepak merpati sudah kuat dan merpati tidak ragu untuk landing dengan stut yang keras, maka dilanjutkan dengan lepasan 10 meter dengan dilempar pada arah yang membelakangi betina. Latihan ini terus dilakukan hingga merpati sudah tidak bingung atau ‘keder’ dengan pola lepasan membelakangi. Tahap Fokus Kolong/Patek ini bisa jadi menghabiskan 1 masa giringan, bahkan lebih, tergantung dari kemajuan merpati yang dilatih.

3. Tahap Pengisian Tenaga.
Pada tahap ini merpati mulai ditambah jarak lepasannya sedikit demi sedikit, awalnya dilepas tanpa gandengan (sendiri) hingga jarak 1 km. Pada lepasan 10—100 meter, merpati yang mulai terbang langsung saja ‘diklepek’, JANGAN sekali-kali ‘diklepek arah jam 11 atau 12 (sudut elevasi 60—90 derajat). Ingat, merpati yang Anda latih adalah merpati stut kencang, bukan merpati biasa. Pada lepasan 100 meter—500 meter, pun belum perlu mengelepek arah jam 11 atau 12, tunggulah hingga saat merpati ‘meminta’ diklepek. Barulah pada lepasan 500 meter – 1 km, sudut kelepekan sedikit demi sedikit dinaikkan. Merpati yang sudah ‘minta diklepek’ sengaja dibiarkan dulu beberapa detik, semakin lama titik klepeken diarahkan menuju posisi jam 11 atau 12, secara BERTAHAP. Perlu Anda ketahui, sebagian merpati yang memiliki stut kencang BELUM akan terbang tinggi di lepasan 1 km. Hal ini biasa-biasa saja dalam melatih merpati model stut kencang. Jika merpati sudah mapan di lepasan 1 km, mulailah digandeng dengan merpati (untul) yang terbiasa terbang tinggi, lebih bagus lagi yang terbiasa juga turun dari posisi jam 12. Biasanya, pada lepasan gandeng pertama-kedua-dan ketiga burung belum mau gandeng, tapi cobalah terus beberapa kali lagi. Jika merpati berhasil terbang gandeng namun tetap terbang rendah, maka perlu kembali ke latihan terbang sendiri namun dengan frekuensi lepas yang ditambah (karena burung belum cukup bertenaga). Jika merpati berhasil terbang gandeng namun tidak mau turun saat diklepek berarti burung kurang mapan kolong, maka perlu dilakukan terbang sendiri lagi. Pada latihan tahap ini belum ada target burung masuk kolongan/ring. Apabila merpati yang Anda latih sudah mau terbang tinggi dan gandeng, maka latihan sudah siap ke tahap berikutnya. Catatan : latihan tahap 3 ini tidak mutlak ‘mentok’ di 1 km, beberapa merpati membutuhkan hingga jarak 1,5 km bahkan 3 km.

4. Tahap Titis Kolong.
Tahap Titis Kolong akan sangat sukses dalam waktu singkat jika tahap 1,2, dan 3 dilakukan di Lapak Latih dengan tinggi kolong/ring yang bisa dinaik-turunkan (diawali dengan tinggi kolong 1 meter kemudian dinaikkan sedikit demi sedikit, bagian samping kolong diberi jaring agar merpati tidak bisa lewat bawah kolong). Pada tahap ini yang perlu Anda lakukan hanyalah menambah terus jarak lepasan dengan untul yang cocok, sambil menaikkan posisi klepek mengarah arah jam 11 atau 12. Pada tahap ini jangan sekali-sekali terpatok pada jarak lepasan start di lapak yang umumnya hanya berjarak 1,2 km – 2 km saja. Merpati Anda sedang tahap latihan, jangan ragu menambah jarak lepasan. Jika pada jarak tertentu (misal 3 km) merpati Anda sudah mulai mau masuk kolongan, maka pertahankan terus pada titik lepasan tersebut dengan untul yang sama. Jika sekali saja merpati kembali ‘ngrobok’ maka perlu penambahan lagi jarak lepasan (misal menjadi 3 km + 50 meter), begitulah seterusnya. Jika dalam 1 giringan merpati Anda sudah konsisten ‘ngolong’ dengan untul yang sama, maka pada giringan berikutnya boleh dicoba digandeng dari jarak START RESMI dengan merpati lain yang biasa ikut perlombaan. INGAT : jika sekali saja merpati kembali ngrobok, itu tanda merpati belum titis kolong, maka perlu pengulangan latihan dengan untul dan jarak lepas yang biasa saat latihan. Selamat mencoba, tak ada alasan merpati Anda tidak juara !